| SULITNYA MENJAGA TRANSJAKARTA OLEH PANCA HARI PRABOWO | ||||
|
|
Sore itu, lalu lintas di sepanjang Jalan Rasuna Said hingga ujung Warung Buncit, Jakarta, macet.
Jalur khusus bus TransJakarta, yang seharusnya steril dari moda lain, dipenuhi antrian kendaraan pribadi roda dua maupun roda empat. "Bagaimana bisa lancar kalau mobil dan motor masih bisa masuk jalur ini? Mereka dibiarkan dan tidak pernah ditilang," kata Budi (33) seorang karyawan swasta yang tinggal di daerah Srengseng Sawah. Budi yang berkantor di kawasan Sudirman merasa lebih efesien bila dari rumahnya di Srengseng Sawah menggunakan motor menuju Ragunan dan menitipkan kendaraannya di "park and ride" Ragunan, kemudian melanjutkan perjalanan dengan TransJakarta. "Saya tidak mengerti, sudah rela menggunakan kendaraan umum ikuti saran pemerintah, tapi masih juga berdiri lama karena macet. Padahal mereka yang di kendaraan macetnya sambil duduk," keluh Budi. Januari 2010, usia TransJakarta memasuki enam tahun. Pada awal pengoperasiannya di 2004 lalu, moda jenis Bus Rapid Transit ini dimaksudkan mendorong masyarakat menggunakan kendaraan umum sehingga jumlah kendaraan pribadi di jalan raya berkurang dan imbasnya pada terurainya kemacetan lalu lintas. "Dalam usianya itu, keberadaannya tidak lebih baik, tetapi malah semakin lebih buruk. Atau dengan kata lain, dalam usianya yang keenam tahun Busway Transjakarta justru berjalan mundur," kata Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas dalam paparan evaluasi kinerja TransJakarta beberapa waktu lalu. Instran menyambut enam tahun pengoperasian TransJakarta membuat sebuah studi tentang perkembangan moda yang menjadi kebanggaan ibukota itu. Selain masalah yang dikeluhkan oleh Budi, masalah lain yang menggelayut antara lain jarak kedatangan bus di setiap halte, kepadatan penumpang di setiap bus dan beberapa kali mulai terjadi gangguan keamanan terhadap penumpang dengan adanya barang hilang akibat copet. "Terjadi fluktuasi jumlah penumpang pada enam bulan terakhir 2009. Fluktuasi jumlah penumpang busway naik turun dengan penurunan paling drastis pada September 2009 yang hanya mencapai 6,474 juta penumpang. Padahal pada bulan Juli 2009 jumlahnya mencapai 7,143 juta penumpang," kata Darmaningtyas dalam paparannya. Adu Taktik Menghadapi sejumlah keluhan, dari mulai pengelola hingga pengemudi serta petugas TransJakarta yang dikerahkan untuk menjaga sejumlah portal mengerahkan sejumlah upaya mereka untuk mengatasi kondisi yang terjadi. "Seringkali kita harus menahan bus diujung jalur yang ada portalnya sampai mobil atau motor di belakang kita habis dan tidak ada yang masuk ke jalur," kata seorang pengemudi yang enggan disebutkan namanya. Pengemudi lainnya mengatakan ia harus menempatkan bus yang dikemudikannya agak ke kiri dan ke kanan di jalur untuk mencegah motor menerobos dari sela-sela badan bus. "Kecelakaan bisa terjadi kalau mereka menyenggol badan bus saat menyusul, dan tentu itu berbahaya. Meski demikian pengendara motor sering tidak peduli bahkan membunyikan klakson," keluh pengemudi itu. Data dari Instran menyebutkan pada 2006 terjadi 31 kecelakaan, pada 2007 terjadi 66 kecelakaan, pada 2008 terjadi 167 kecelakaan dan hingga 16 Desember 2009 terjadi 264 kecelakaan. Dinas Perhubungan DKI Jakarta pun telah memasang sejumlah portal manual di beberapa titik untuk mencegah masuknya kendaraan pribadi dalam jalur TransJakarta yang kerap terjadi antara lain di koridor 6 (Ragunan - Dukuh Atas), koridor 5 (Kp Melayu - Ancol), koridor 2 (Harmoni-Pulogadung) dan Koridor 3 (Harmoni-Kalideres). "Tahun ini (2009) implementasi pembangunan enam portal lagi, sementara program ke depannya kami akan menambah 35 portal lagi tahun depan," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI M Tauchid dalam sebuah kesempatan diakhir tahun 2009. Tauchid menjelaskan pemasangan enam portal tambahan itu akan dilakukan di lima titik yakni Jalan Buncit sebanyak dua portal, Jalan Matraman satu portal, Jalan Letjend Suprapto satu portal, Jalan Galur satu portal dan Jalan Daan Mogot satu portal. Jika hasil evaluasi pemasangan enam portal tersebut dinilai baik maka pemasangan itu akan dilakukan di setiap jalur yang marak penyerobotan oleh pengendara kendaraan pribadi. Pada medio 2007 Dishub DKI pernah mewacanakan penggunaan metode "contra flow" atau pengoperasian bus TransJakarta berlawanan dengan arus lalu lintas sehingga mau tidak mau kendaraan pribadi yang menerobos masuk harus mundur karena berlawanan arah dengan bus TransJakarta, namun metode itu urung dilaksanakan. Perbaikan atau ditinggalkan penumpang Hingga saat ini, memasuki tahun keenam pengoperasiannya, TransJakarta memiliki delapan koridor masing-masing koridor I (Kota-Blok M),koridor 2 (Harmoni-Pulogadung), koridor 3 (Harmoni-Kalideres), koridor 4 (Pulogadung-Dukuh Atas 2), koridor 5 (Kp Melayu-Ancol), koridor 6 (Ragunan-Dukuh Atas 2), koridor 7 (Kp Rambutan-Kp Melayu) dan Koridor 8 (Lebak Bulus-Grogol 2),(Lebak Bulus-Harmoni) dengan total panjang lintasan busway Transjakarta mencapai 143,35 Dengan jumlah armada bus yang mencapai 426 unit, TransJakarta sebetulnya sangat berpotensi menjadi moda angkutan yang mampu mengakomodasi pergerakan masyarakat disamping Kereta Rel Listrik (KRL) dan angkutan umum lainnya termasuk bus reguler dan angkupat. Sejumlah langkah untuk membenahi kondisi yang ada mulai dilakukan. Pemprov DKI akan menyusun standar pelayanan minimum (SPM) bagi pelayanan Transjakarta untuk menjamin pelayanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. "Standar ini akan diumumkan dalam waktu dekat. Dengan adanya SPM ini nantinya tingkat pelayanan Transjakarta bisa terukur," kata Gubernur DKI Fauzi Bowo dalam sebuah kesempatan. Dengan dasar SPM itulah, Pemprov DKI dapat melakukan penilaian terhadap kinerja Transjakarta terutama untuk faktor pelayanan terhadap penumpang seperti kenyamanan, keamanan dan tepat waktu. Selain menyiapkan SPM, pengembangan koridor hingga 15 juga tengah dikaji oleh Pemprov DKI Jakarta. "Koridor XI-XII dalam perencanaan, XIII-XV dalam penajaman," kata Fauzi Bowo. Perencanaan dan penajaman itu dilakukan karena dalam rencana pembangunan jangka panjang daerah 2007-2012, 15 koridor harus sudah selesai. Dengan demikian, waktu penyelesaian bagi kelima koridor terakhir itu tinggal dua tahun lagi sehingga Pemprov harus mempercepat proses konstruksi. Jalur-jalur yang membutuhkan penajaman desain koridor 14 (Pasar Minggu-Manggarai) yang jalurnya sempit sehingga disiapkan alternatif jalan layang non tol untuk mengakomodasi hal tersebut. "Saya minta dipertajam. Apakah `fly over` itu untuk `through traffic` (jalur langsung) atau untuk busway. Misalnya jalan Pasar Minggu ke Pancoran kan sempit, bisa dibuat buswaynya mengambil satu jalur, sehingga jalurnya sisa satu, kemudian through trafficnya di atas," katanya. Juga arus koridor itu dari Depok ke Jl TB Simatupang yang sudah memiliki jalan susun namun belum ditentukan dalam desain teknik detilnya jalur mana yang akan digunakan sebagai busway. Sementara koridor 15 (Ciledug-Blok M) juga membutuhkan penajaman kajian karena ruas jalan yang sempit dan kemacetan seringkali terjadi dan bertambah parah dengan banyaknya angkutan umum yang berhenti dan menunggu penumpang sembarangan di sepanjang jalur. Di jalur tersebut, kata Foke, ada alternatif pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) sehingga kajian dibutuhkan untuk menentukan apakah busway dibutuhkan. Pihak pengelola TransJakarta sendiri mengatakan pada 2010, layanan akan terus ditingkatkan melalui pengupayaan sterilisasi jalur dengan pihak kepolisian, peningkatan dan perbaikan infrastruktur oleh instansi-instansi terkait dengan tambahan penyediaan portal di jalur busway. Pada 2010 juga, menurut mereka dalam situs resminya, akan ada tambahan empat SPBBG baru, rencana pengoperasian Koridor 9 (Pinang Ranti-Pluit) dan Koridor 10 (Tanjung Priok-Cililitan) dengan tambahan jumlah armada busway sebanyak 139 unit armada, yang terdiri atas 114 unit armada bus single dan 25 unit armada articulated bus. Sebagai salah satu kebanggaan dan moda transportasi andalan warga ibukota, TransJakarta tentu harus berbenah bila tidak ingin ditinggalkan oleh penggunanya dan hanya tinggal kenangan seperti trem listrik yang pernah beroperasi di Jakarta. |


